Home / Berita Umum / Bung Karno Pertama Kali Yang Mempopulerkan Peci Hitam

Bung Karno Pertama Kali Yang Mempopulerkan Peci Hitam

Bung Karno Pertama Kali Yang Mempopulerkan Peci Hitam – Peci hitam akhir-akhir ini jadi perhatian berkaitan dinamika Pilgub DKI Jakarta 2017. Yaitu Proklamator bangsa ini, Ir Sukarno, dapat disebutkan sosok yang pertama kalinya mempopulerkan peci hitam sebagai bukti diri diri serta membuatnya sebagai simbol kebangsaan.

Hal semacam ini diceritakan Sukarno dalam satu diantara tulisannya waktu masuk kota Bandung. ” Minggu paling akhir bln. Juni th. 1921 saya masuk kota Bandung, seperti Princeton atau kota pelajar yang lain serta kuakui kalau saya suka dengan juga diriku sendiri. Kesenangan itu hingga sedemikian hingga saya telah mempunyai satu pipa rokok. Jadi dapat dipikirkan begitu mengasyikkan saat yang kulalui untuk sekian waktu, ” kata Sukarno dalam buku Penyambung Lidah Rakyat Indonesia yang ditulis oleh Cindy Adams Sabtu (25/3/2017).

Sukarno lalu menuliskan bakal kesuksesannya dalam memakai peci hitam. Peci hitam itu dipakainya waktu pertemuan dengan Jong Java sebentar sebelumnya dianya meninggalkan kota Surabaya.

” Satu diantara dari pada egoisme ini yaitu karena suksesku dalam penggunaan peci, kopiah beludru hitam sebagai sinyal inginalku, serta membuatnya sebagai simbol kebangsaan kami. Pengungkapan tabir ini berlangsung dalam pertemuan Jong Java, sebentar sebelumnya saya meninggalkan Surabaya, ” sebut Sukarno.

Inspirasi untuk mempopulerkan peci lantaran terlebih dulu berlangsung perbincangan hangat diantara mereka yang menamakan dianya golongan ‘intelijensia’. Sukarno menyebutkan, golongan ‘intelijensia’ ini senantiasa menghindari diri dari rakyat umum yang memakai blangkon atau tutup kepala yang umum digunakan orang-orang Jawa.

” Tutup kepala yang umum digunakan orang Jawa dengan sarung, atau peci yang umum digunakan oleh tukang becak serta rakyat jelata yang lain. Mereka lebih suka pada buka tenda dari pada menggunakan tutup kepala yang disebut baju sebenarnya dari orang Indonesia. Ini yaitu langkah golongan terpelajar ini menghina dengan halus pada kelas-kelas yang lebih rendah, ” terang Sukarno.

Sukarno melihat golongan ‘intellijensia’ itu sebagai orang yang ‘bodoh’ serta butuh belajar. Baginya, seorang akan tidak dapat memimpin rakyat bila tak terjun segera merajut ikatan berbarengan rakyat kecil.

” Saya mengambil keputusan untuk mempertalikan diriku dengan berniat pada rakyat jelata. Dalam pertemuan setelah itu kuatur untuk menggunakan peci, fikiranku agak tenang sedikit. Hatiku berbicara. Untuk mengawali satu gerakan yang jantan seperti ini dengan cara terang-terangan memanglah membutuhkan kawan-kawan seperjuangan yang bertandingk tinggi lewat semuanya dengan buka tenda serta rapi, semuanya bertandingk seperti mereka itu orang barat kulit putih, saya beberapa sangsi untuk sedetik, ” kata Sukarno.

Sukarno lalu ajukan pertanyaan pada dianya. ” Jadi pengikutkah engkau, atau jadi pemimpin kah engkau? Saya pemimpin, jawabku menyatakan, bila demikian buktikanlah, kataku pada diriku. Mari maju, gunakanlah pecimu, tarik napas yang dalam serta masuk saat ini!!! Demikianlah kulakukan, ” tegasnya.

Sukarno yang masuk ruangan pertemuan dengan peci hitam lalu jadi perhatian. Dengan peci hitam tiap-tiap orang memandangnya dengan tanpa ada kalimat.

” Di waktu itu kelihatannya tambah baik memecah kesunyian dengan buka bicara, jangan sampai kita melupakan untuk maksud kita, kalau beberapa pemimpin datang dari rakyat serta bukanlah ada diatas rakyat. Mereka masihlah saja melihat, ” katanya.

About admin