Home / Berita Umum / Penambahan Volume Export Disertai Dengan Kenaikan Produksi Sawit

Penambahan Volume Export Disertai Dengan Kenaikan Produksi Sawit

Penambahan Volume Export Disertai Dengan Kenaikan Produksi Sawit – Industri kelapa sawit waspada resiko berlarutnya perang dagang Amerika Serikat – China. Karenanya seteru dua perekonomian paling besar dunia ini berimbas pada pelemahan ekonomi global yg menyeret harga komoditas, termasuk juga minyak kelapa sawit.

” Demikian ada kelesuan di negara besar, resikonya pada komoditas. Tahun ini, yg awal mulanya kami mengharapkan (perang dagang berhenti) , nyata-nyatanya tekanannya naik , ” kata Ketua Umum Paduan Pebisnis Kelapa Sawit (GAPKI) Joko Supriyono di celah acara membuka bersama-sama mass media di Jakarta, Rabu (15/5) .

Joko mengatakan rata-rata harga minyak kelapa sawit mentah (CPO) pada kuartal I 2019 kira-kira US$520 – US$530 per ton. Walaupun sebenarnya, pada periode yg sama tahun yang kemarin masih kira-kira US$650 per ton.

Meski demikian, volume export minyak kelapa sawit keseluruhannya tambah baik pada kuartal I 2019. Tersebut, volume export minyak kelapa sawit keseluruhannya (biodiesel, oleochemical, CPO serta produk turunannya) pada tiga bulan pertama 2019 capai 9, 1 juta ton atau bertambah lebih kurang 16 prosen dari periode yg sama tahun yang kemarin, 7, 84 juta ton.

Privat Maret 2019, kemampuan export minyak sawit keseluruhannya tumbuh 3 prosen ketimbang bulan awal mulanya berubah menjadi 2, 96 juta ton.
Perang dagang AS-China dengan cara langsung beresiko pada perdagangan kedelai ke dua negara. Imbasnya, persediaan kedelai di AS menumpuk serta sebabkan harga komoditas minyak nabati turun. Export minyak kelapa sawit ke AS pada Maret 2019 pun turun 10 prosen berubah menjadi 62, 53 ribu ton.

Disamping itu, perlambatan perekonomian global berimbas pada turunnya permohonan export minyak sawit ke beberapa negara. Satu diantaranya export minyak kelapa sawit ke India sebagai negara maksud export paling besar Indonesia pada Maret 2019 turun 62 prosen ketimbang Februari 2019 berubah menjadi 194, 41 ribu ton. Penurunan export pun berlangsung buat negara maksud Afrika 38 prosen serta China sebesar 4 prosen.

Tidak hanya itu, perlakuan Uni Eropa lewat peraturan arah kekuatan terbarukan II (RED II) yg melarang pemanfaatan biodiesel berbasiskan sawit pun memiliki pengaruh pada kemampuan export. Tersebut, export sawit ke Uni Eropa turun 2 prosen berubah menjadi 498, 24 ribu ton.

Akan tetapi, permohonan export sawit masih bertambah di beberapa negara seperti Korea Selatan, Jepang, serta Malaysia.

Penambahan volume export disertai dengan kenaikan produksi minyak kelapa sawit. Pada Maret 2019, produksi minyak sawit naik 11 prosen dengan cara bulanan dari 3, 88 juta ton berubah menjadi US$4, 31 juta ton. Kenaikan produksi ini termasuk normal lantaran harga kerja yg lebih panjang ketimbang Februari.

Urutan persediaan minyak kelapa sawit pada Maret 2019 tersebut 2, 43 juta ton, turun 3 prosen ketimbang bulan awal mulanya.

About penulis77